Thursday, November 15, 2007

Memilih dan Menyimpan Buah Tomat

Bagi negeri kita yang sepanjang tahun panas dengan kelembaban tinggi, buah tomat mengalami respirasi yang tinggi, sehingga tanamannya cepat berbuah dan cepat pula masak. Konsekuensinya, kita sulit memperoleh buah tomat yang besar-besar seperti tomat produksi New Zealand, Australia, atau Amerika Serikat, yang banyak kita temukan di beberapa supermarket. Karena, begitu semua kandungan buahnya telah terisi, sebelum mencapai ukuran yang maksimal, buah tomat kita segera memasuki masa pemasakan atau disebut ripening.

Sesuai dengan sifatnya ini, maka membeli buah yang masih hijau namun ukuran buahnya telah maksimal, merupakan pilihan yang baik untuk memperpanjang umur simpannya, karena nilai gizinya tidak berbeda. Apakah ini berarti nilai gizi yang dikandung tomat kita lebih rendah dari pada tomattomat impor? Tentu saja tidak. Karena sesuai dengan “kodrat”nya, tanaman tomat termasuk tanaman yang selektif dalam menyerap unsur hara. Apabila kekurangan salah satu unsur hara, tanaman ini akan memperkecil buahnya, namun tidak mengurangi senyawa-senyawa gizi yang dibentuknya.

Respirasi buah tomat ini terus berlangsung ketika telah dipetik. Proses respirasi yang menyebabkan pembusukan ini terjadi karena perubahan -perubahan kimia dalam buah tomat dari pro-vitamin A menjadi vitamin A, pro-vitamin C-menjadi Vitamin C, dan dari karbohidrat menjadi gula, yang menghasilkan CO2, H2O, dan ethylen. Akumulasi produk-produk respirasi inilah yang menyebabkan pembusukan.

Namun sesuai ‘kodrat’-nya pula respirasi ini tidak dapat dihentikan, hanya bias dihambat, yaitu dengan menyimpannya pada suhu dan kelembaban rendah.

Penyimanan suhu rendah dapat dilakukan secara sederhana dalam almari es, namun di tempat ini kelembabannya tinggi mengingat barang-barang yang mudah menguap juga tersimpan di sini, sehingga proses respirasi tidak dapat dihambat dengan baik.

Cara lain adalah mengurangi timbunan produk-produk respirasi. Penghambatan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Buah-buah tomat impor yang kita dapati di beberapa supermarket atau galael di Semarang ini, biasanya dibungkus dengan plastik polyethilen. Cara ini cukup baik, karena cukup efektif menekan pembentukan CO2 dan H2O. Namun ‘poly-ethilen’ ini akanberreaksi dengan ‘ethylen’ yang dihasilkan buah tomat, membentuk ‘ethylen’ rantai panjang yang mudah berraksi dengan lapisan lilin kulit tomat, sehingga sampai batas tertentu kurang baik bagi kesehatan, kecuali bila kulitnya “dikupas”.

Bahan kemasan lain buah tomat impor adalah plastik polyethilen shrink film atau plastik mengkerut, yang terlihat lebih “bergengsi”, karena harganya lebih mahal. Tetapi sesuai dengan sifat reaksi ethylen tersebut, kemasan ini lebih kurang baik bagi kesehatan karena kontak langsung kulit buah dengan bungkus lebih banyak.

Di Australia biasanya digunakan bungkus plastik polyethylen biasa dengan buntalan kecil di dalamnya yang berisi KMNO4. Pengemasan ini lebih aman karena KMNO4 sangat efektif menyerap ethylen. Namun akibatnya, harga tomatnya jauh lebih mahal, karena harga KMNO4 dan pembungkusnya, yang harus semipermeabel ini, sangat mahal.

Cara paling mudah, murah, dan aman bagi tomat-tomat dalam negeri adalah adalah menyimpannya dalam kotak kayu yang higroskopis sehingga dapat menyerap H2O dan di bagian bawahnya diberi kapur tohor atau Ca(OH)2 untuk mengikat CO2, serta disimpan di tempat yang kering dan teduh sehingga penimbunan ethylen dapat ditekan. Bila buah tomat yang disimpan masih berwarna kehijau-hijauan, penyimpanan dengan cara ini dapat menahan kesegaran buah tomat sampai 2 minggu.

Thursday, August 30, 2007

Memelihara Belut dalam Comberan

BELUT
Belut bisa diusahakan di berbagai perairan seperti sungai, rawa dan kolam. Ia juga dapat dipelihara di genangan air sawah,bahkan dalam air comberan sekalipun!. Belut merupakan salah satu jenis ikan darat dari keluaraga Sybranchidae, yakni ikan yang tidak memiliki sirip atau anggota tubuh lain untuk bergerak.
Jika ingin memelihara belut sebagai usaha sambilan, anda bisa melakukannya di pekarangan rumah. Bahkan jika pekarangan yang dimiliki amat terbatas (sempit), anda bisa memeliharanya di comberan, dengan kadar oksigen dalam air yang sangat minim. Mengapa bisa demikian? Karena belut memiliki alat pernafasan tambahan, sehingga bisa menghisap zat asam (oksigen) langsung dari udara.
Comberan merupakan tempat air buangan (limbah) dari dapur serta kamar mandi yang menggenang. Genangan comberan itu umumnya tidak luas, terletak di belakang rumah, dan biasanya merupakan genangan air kotor yang kental dan berlumpur. Air comberan sudah barang tentu bukanlah tempat ideal bagi kesehatan dan lingkungan sekitarnya. Dipandang pun tidak menarik selera, karena ujud airnya yang kotor dan seringkali mengeluarkan bau tak sedap. Tak sedikit pula comberan menjadi sarang penyakit, terutama jentik-jentik nyamuk. Nah, daripada air comberan menjadi tempat jorok dan sarang penyakit, mengapa tidak dimanfaatkan sebagai media pemeliharaan belut yang cukup produktif?
Comberan yang diusahakan sebagai tempat pemeliharaan belut biasanya lebih terpelihara. Air yang dibuang pun tidak akan melimpah ke mana-mana. Jentik-jentik yang biasa timbul di tempat air yang tergenang juga akan habis dimakan belut. Jadi belut dan comberan bisa dijadikan paduan usaha yang sangat menguntungkan bagi keluarga dan lingkungan.
Menjadi Bak
Sebelum comberan digunakan sebagai tempat pemeliharaan, terlebih dahulu harus dirombak menjadi bak. Bak inilah yang akan menampung air dari dapur dan kamar mandi. Bak dibuar dngan ukuran 1x1x1,5 m³. seluruh dindingnya terbuat dari tembok (batu bata), kecuali bagian dasar yang dibiarkan begitu sajauntuk peresapan air.
Sebelum diisi air, dasar bak perlu dicangkul-cangkul dulu agar gembur. Selanjutnya diberi tumpukan bahan-bahan organic seperti dedak kasar, sekam padi, pupuk kandang yang telah mdang dan ikatan-ikatan jerami kering. Kemudian bak penampungan diisi air, tapi jangan sampai penuh. Cukup setinggi 50-60 cm saja, agar belut tidak mudah keluar dari bak. Untuk mengalirkan air yang berlebihan, pada salah satu pinggiran dibuat lubang pengeluaran.
Penanaman Benih
Sebelum belut-belut dimasukkan, sebaiknya bak telah diisi air selama 15 hari. Ini untuk mencegah terjadinya kematian belut karena pengaruh bahan-bahan tembok seperti kapur dan semen.
Benih belut yang akan dipelihara hendaknya dipilih yang sehat, baik, tidak luka, atau rusak.
Bak comberan berukuran 1x1x1,5 m³ tadi dapat diisi 150 ekor benih dengan panjang 5-8 cm.
Apabila mau diisi belut berukuran tanggung, dengan panjang 15cm, sebaiknya jumlahnya dikurangi hingga separonya. Untuk ukuran benih tanggung ini, masa panen bisa dipersingkat menjadi sekitar dua bulan saja.
Untuk menjaga kemungkinan air meluap dan belut bisa meloncat keluar dari bak comberan, sebaiknya bak ditutup dengan bahan-bahan bamboo. Selain itu, lubang saluran air perlu diberi kawat saringan (filter).
Makanan
Agar tumbuh dengan baik dan sehat, belut memerlukan makanan yang cukup. Makanan belut yang dipelihara dalam bak comberan terdiri atas jasad renik yang tumbuh dari pupuk. Bisa juga berupa sisa-sisa makanan dari dapur. Lebih baik lagi jika belut diberi makanan tambahan berupa ulat besar (belatung). Ulat bisa diperoleh dengan cara membusukkan ampas kelapa, dedak halus, dan dua sendok makan pupuk urea.
Biarkan campuran ini di tempat lembab selama satu minggu dalam wadah keranjang. Campuran ini nantinya akan akan menghasilkan larva/ulat. Pemberian ulat bisa dilakukan 10 hari sekali.
Pemanenan
Dua bulan setelah dipelihara, benih belut yang semula berukuran kecil (5-8 cm) akan menjadi 15cm. belut tanggung seperti ini harus dikurangi jumlahnya agar kepadatan bak tidak over.
Pengurangan dapat mencapai 60-70 persen dari populasi belut semula. Anda tidak harus membuang belut-belut yang diafkir, tetapi cukup menyediakan bak lain disebelahnya. Jika tidak memungkinkan membuat bak baru, belut yang diafkir ini bisa dijual sebagai benih tanggung. Bisa juga dikonsumsi sendiri sebagai belut goring yang kering, renyah dan gurih.
Sedangkan belut yang tersisa terus dipelihara. Tetapi tumpukan bahan-bahan organic perlu diperbaharui dan diperbaiki dulu.
Dua bulan kemudian, belut sudah berukuran sekitar 25-30cm dan bisa dipanen. Anda bisa memasarkannya dalam keadaan hidup, atau melalui pengolahan menjadi dendeng atau belut goring. Nah selamat mencoba.
Sumber : Suara Merdeka, Artikel tentan memelihara BELUT

JURUS JITU BUDIDAYA ANTHURIUM

ANTHURIUM memilki kekhasan, yaitu daunnya tebal, kokoh dan kompak, dengan bentuk yangbervariasi. Tanaman ini termasuk bandel, tidak manja. Perawatannya tidak repot, karena tak memerlukan pemangkasan dan tak digemari kutu. Namun, bagaimanapun, memelihara tanaman yang dipercaya sebagai milik para bangsawan ini memang memerlukan ketelatenan.

Sugiyono, salah seorang petani tanaman hias yang cukup berprestasi, memberi beberapa jurus jitu pemeliharaan anthurium agar menghasilkan tumbuhan yang sehat dan berdaun kokoh.
Yang pertama, pemilik jenmanii Sweet Merapi yang menang di berbagai kontes ini menyebut media tanam harus porous (mudah menyerap air). Selain itu, media tanam harus bebas dari organisme penyebab penyakit.
Dia memaparkan, anthurium tumbuh ideal di dataran sedang (300 – 500 meter dari permukaan laut/dpl). Suhu yang dikehendaki 24-28º Celcius (siang) dan 18-21º Celcius pada malam hari. Factor kelembaban juga tak kalah penting, sebab anthurium dapat hidup pada kelembaban 60-80%. Jika kurang atau lebih akan membuat tanaman layu. Kedua factor ala mini amat dominant dalam menentukan perkembangan postur tanaman. Oleh karena itu, suhu dan kelembaban ruang untuk budidaya harus diseduaikan.


Proposional
Pemilik Green House Bunga Ayu di Desa Ngunut, Kecamatan Tawangmangu, ini menambahkan, kelembaban udara di daeranya sangat cocok untuk budidaya anthurium. Karena itulah, tanaman hias yang dibudidayakan di wilayah tersebut cenderung berpostur bagus, berdaun tebal, proporsional dan kompak.
“Tumbuhan yang bagus adalah jika daun-daunnya tumbuh secara kompak dan proporsional. Kalau tak proporsional, berarti pemeliharaannya gagal,”urainya. Dia punya “rahasia” yang membuat anthuriumnya cepat tumbuh, yaitu dengan menggunakan Good Grow GF 1 atau formula pengatur pertumbuhan daun. Saat kontes, agar daun mengkilat, ia menggunakan Good Grow GF 2.
Sugiyono mengingatkan jika tanaman ini tak tahan matahari langsung. Jika itu terjadi, daun-daunnya akan terbakar akibat dehidrasi. Lingkungan pertumbuhan anthurium idelanya menerima sinar matahari dengan intensitas 30-60 persen saja. Jika dikembangkan di dataran rendah, sebaiknya menggunakan shadin net berukuran 65 persen, dan ukuran 55 persen untuk dataran sedang.

Sumber : Suara Merdeka, 28 Agustus 2007 tentang ANTHURIUM

ANTHURIUM, TANAMAN RAJA

ANTHURIUM
Seakan punya unsur magis, semua mata terpesona dan berlomba ingin memilikinya. Itulah tanaman hias anthurium. Ada yang mengatakan, mahalnya harga tanaman ini dpicu oleh terdongkraknya gengsi pemiliknya. Hal itu tak lepas dari sejarah anthurium, yang dikenal sebagai tanaman raja dan bangsawan. Tanaman ini masuk Indonesia tahun 1800-an, dan digemari kaum bangsawan. Sesuai dengan sosok penampilannya, anthurium juga dinamai sang raja daun. Ya, anthurium memiliki daun-daun yang kokoh dan kompak, yang melambangkan kekuatan dan pengayoman. Tak heran kalau dimasa lalu tanaman ini dijadikanhiasan taman kerajaan di Tanah Jawa.

Anthurium juga dianggap membawa aura tersendiri. Tanaman berdaun kuat ini berperan sebagai eye catching dalam sebuah ruangan. Sebagian orang menganggap daunnya yang gagah dan kokoh merupakan symbol kewibawaan.

Pamor Black
Dalam perkembangannya, muncul berbagai strain anthurium, hasil persilangan di antara spesies dan/atau strain yang berbeda. Bahkan setiap strain kini memiliki beberapa jenis. Saat ini anthurium jenmanii yang digandrungi. Harga komoditas itu melambung tinggi, sementara stocknya cukup jarang. Diperkirakan, banyak yang menyimpan jenis ini untuk persediaan booming fase kedua.

Tapi banyak yang memprediksi tak lama lagi tren akan bergeser. Ketua Kelompok Petani Anthurium Karanganyar (Kompak), Darmono, menduga bahwa jenis black akan mengalami booming akhir tahun ini. Dia mencontohkan anthurium burgundy dan black silfit yang ramai diburu kolektor maupun pecinta tanaman hias. Selain kedua jenis itu, hockery hitam dan garuda hitam juga ikut terdongkrak harganya. ”Pokoknya anthurium black menjadi target perburuan nanti” ucapnya.

Prediksi itu mungkin ada benarnya, karena harga anakan black silfit dan burgundy di pasaran sudah mahal. Untuk yang berdaun dua mencapai Rp. 200.000 – Rp. 250.000. yang berukuran sedang, harga sudah diatas jenmanii kelas menengah.
Sumber : Suara Merdeka, 28 Agustus 2007 tentang ANTHURIUM

ANTHURIUM DARI LERENG LAWU

Anthurium
Fenomena tanaman hias jenis anthurium daun memang membuat kita terhenyak. Ada apa dibalik kegandrungan itu? Bagaimana Kabupaten Karanganyar melihat tanaman hias ini sebagai produk unggulan?
Berapa harga normal anthurium daun? Jawabannya adalah, berapapun pantas untuk dibandrol pada komoditas ini. Tanaman hias ini sedang mengalami booming, dan menjadi incaran banyak kalangan.
Tidak ada istilah terlalu mahal untuk sebatang tanaman, bahkan untuk selembar daun, ketika hati penggemar sudah terpikat. Ratusan ribu hingga puluhan juta rela dikeluarkan dari dompet, demi memburu anthurium daun.
Ya, tanaman itu laksana sihir yang memantera manusia. Siapapun pasti terpikat. Bukan sekedar bagi kolektor,melainkan juga bagi pebisnis. Pasalnya, keuntungannya menggiurkan. Dalam waktu beberapa bulan saja, modal bias kembali dan berlipat.
Iklim Cocok
Hal itulah yang membuat sebagian besar masyarakat di lereng Gunung Lawu ikut “bermain” anthurium. Apalagi iklim di daerah pegunungan sangat cocok untuk budidaya tanaman hias.
Tanaman hias dari daerah-daerah yang masuk Wilayah Kabupaten Karanganyar ini dikenal memiliki postur bagus, berdaun tebal, kokoh, dan unik. Tak heran jika banyak penggemar menjadikan kawasan lereng Lawu ini sebagai tujuan untuk berburu anthurium.
Ada yang berpendapat, booming anthurium terjadi karena banyak spekulan bermain. Secara riil, permintaan akan anthurium, terutama jenmani, masih mendominasi spekulan. Adapun konsumen lainnya atau hobiis, paling banter hanya 10 persen.
“Bila dicermati, perdagangan anthurium jenmani atau jenis lainnya hanya terjadi antar bakul ke bakul. Inilah yang menyebabkan naiknya harga” ujar seorang pembudidaya asal Karangpandan.
Dengan kondisi tersebut, banyak yang memprediksi booming tanaman tak bakal lama. Paling banter hingga tiga tahun ke depan. Tetapi ada pula yang teguh mengatakan, prospek tanaman hias tetap bagus, asalkan tak ada kultur jaringan yang mampu menghasilkan anakan anthurium dengan jumlah missal.
“Saya optimis booming anthurium cukup lama. Nanti bahkan akan ada booming kedua, karena pangsa pasarnya bukan hanya nasional tapi juga internasional” kata Agung, pemilik Green House Dago Flora di Karanganya Kota.
Apapun penyebabnya, fenomena ini membawa banyak perubahan positif bagi masyarakat, terutama petani tanaman hias yang banyak terdapat di Kabupaten Karanganyar.
Booming tanaman hias tak disia-siakan para pemain anthurium. Ada yang coba meraup untung dengan menjadi pemain. Bisnis tersebut diandalkan sebagai penghasilan utama. Ada pula yang hanya sampingan. Nyaris tak berbeda, karena bisnis ini tetap menguntungkan, sementara bisnis di sector lain tengah mengalami kelesuan.
Tiga Jenis Pemain
Berdasarkan aktivitas, ada tiga jenis pemain anthurium. Pertama breeder atau pembibit. Kedua grower atau pengembang, dan ketiga retailer atau pengecer.
Breeder adalah orang yang melakukan pembiakan tanaman. Mereka membpunya indukan, lalu menjual anakandari tanaman induk itu. Grower adalah orang yang tidak memiliki indukan, tetapi membeli anakan dari breeder dan membesarkannya.
Biasanya grower menjual tanamannya menunggu tren tertentu yang sedang naik daun, sehingga keuntungan menjadi berlipat-lipat. Sementara retailer adalah orang yang bisasa membeli dari breeder atau grower, lalu dijual secara eceran kepada konsumen.
Ketiga jenis pemain anthurium ini ada di Karanganyar. Jumlah terbanyak adalah petani. Sebab grower dan retailer sangat bergantung pada pasokan breeder dan suasana pasar.
Seringkali harga tanaman naik berlipat, karena tingginya permintaan. Sementara mereka telah menjual lebih rendah dari harga sebelum kenaikan, sehingga tidak mampu membeli barang baru.
“Bisa juga kami membeli dari breeder dengan harga cukup mahal, karena sedang ngetren. Tapi ketika dijual lagi, lakunya agak rendahkarena tidak ngetren lagi. Makanya, meski keuntungan banyak, grower dan retailer sangat tergantung pada pasar.
Menjadi OKB
Dengan alasan keuntungan lebih maksimal, banyak orang yang memutuskan jadi petani. Petani bisa memanen tanaman induk yang sudah mengeluarkan tongkol dan dibiakkan.
Biji dari tongkol bisa disemai hingga menjadi bibit atau biasa disebut anakan. Dari sebatang tongkol bisa dihasilkan puluhan bahkan ratusan bibit.
Ah, hitung sendiri berapa laba yang diraup, kalau satu anakan jenmani berdaun dua dijual seharga Rp. 130.000,- hingga Rp. 150.000,- per batang. Dengan beralihnya pola tersebut, mereka bisa disebut sebagai petani, dan bukan sekedar hunter (pemburu) anthurium. Sebutan pemburu membuat mereka tak nyaman, sehingga mendeklarasikan Komunitas Petani Anthurium Karanganyar (Kompak)
Jangan menyepelekan petani yang satu ini. Sebab dari pekerjaan itu, banyak diantara mereka yang jadi jutawan, bahkan miliarder baru di Karanganyar. Mereka jadi OKB (orang kaya baru) karena anthurium.
Salah satunya adalah Bayan Tarso, warga Dusun Karang Kulon, Desa Karang, Kecamatan Karangpandan. Perangkat desa ini punya empat green house anthurium.
Omzet penjualannya mencapai ratusan juta per hari, dengan total asset tak kurang dari 12 miliar. Itu belum termasuk belasan bidang tanah dan mobil, hasil barter orang kaya dengan beberapa tanaman miliknya.
Padahal, kala memulai bisinis ini tahun 2002, ia hanya memiliki modal Rp. 60 juta. Hanya dalam beberapa tahun, modalnya kembali berlipat-lipat. Dia juga memiliki beberapa anthurium jenmani jenis giant, yang ditawarkannya seharga Rp. 250 juta.
Hal yang sama dialami Suyarto, warga Desa Balong, Kecamatan Jenawi. Sopir ambulans dan PNS Golongan II ini bisa menikmati kemewahan karena anthurium jenmanii. Sebuah mobil mewah terparkir di garasinya yang cukup mewah.
Sumber : Suara Merdeka, 28 Agustus 2007 tentang ANTHURIUM

Sunday, August 26, 2007

Pesto Pizza

Ingredients :

  • 1 1/2 cups (packed) stemmed spinach leaves
  • 1/2 cup (packed) fresh basil leaves (about 1 bunch)
  • 1 1/2 tablespoons oil from oil-packed sun-dried tomatoes or olive oil
  • 1 large garlic clove
  • Olive Oil
  • 1 12 inch NY Style dough shell
  • 1/3 cup sliced drained oil-packed sun-dried tomatoes
  • 2 cups grated mozzarella cheese (about 8 ounces)
  • 1 cup grated Parmesan cheese

How to make :

  1. Blend first 4 ingredients in processor to coarse puree.
  2. Transfer pesto to small bowl. (Can be prepared 1 day ahead.
  3. Press plastic directly onto surface of pesto to cover; refrigerate.) Preheat oven to 500F.
  4. Grease 12 inch pizza pan with olive oil. Arrange dough in pan and spread all of pesto over dough.
  5. Sprinkle with sun-dried tomatoes, then cheeses.
  6. Bake pizza until crust browns and cheese melts.

Monday, July 30, 2007

Frozen Peanut Butter Pizza Pie

Ingredients :
2 Thin Dough 12 inch dough shells
2 Tbls. butter, softened
1 8 oz. package cream cheese, softened
1 cup creamy peanut butter, softened
1 1/2 cups powdered sugar
1 cup milk
1 12-oz. package
Cool Whip chocolate syrup

How to make it :
Preheat oven to 400°F.
Brush tops and rims of pizza shells with butter, place in center oven rack and bake 8 minutes. Remove and cool on wire racks. In a large electric mixer bowl, beat cream cheese and peanut butter, then add the powdered sugar in three portions, alternating with the milk. Fold in thawed Cool Whip, then spread mixture over the cooled pizza crusts. Freeze until firm.
Serve pizzas cold, but not frozen. Just before serving, drizzle with chocolate syrup.

About Me