Thursday, August 30, 2007

ANTHURIUM DARI LERENG LAWU

Anthurium
Fenomena tanaman hias jenis anthurium daun memang membuat kita terhenyak. Ada apa dibalik kegandrungan itu? Bagaimana Kabupaten Karanganyar melihat tanaman hias ini sebagai produk unggulan?
Berapa harga normal anthurium daun? Jawabannya adalah, berapapun pantas untuk dibandrol pada komoditas ini. Tanaman hias ini sedang mengalami booming, dan menjadi incaran banyak kalangan.
Tidak ada istilah terlalu mahal untuk sebatang tanaman, bahkan untuk selembar daun, ketika hati penggemar sudah terpikat. Ratusan ribu hingga puluhan juta rela dikeluarkan dari dompet, demi memburu anthurium daun.
Ya, tanaman itu laksana sihir yang memantera manusia. Siapapun pasti terpikat. Bukan sekedar bagi kolektor,melainkan juga bagi pebisnis. Pasalnya, keuntungannya menggiurkan. Dalam waktu beberapa bulan saja, modal bias kembali dan berlipat.
Iklim Cocok
Hal itulah yang membuat sebagian besar masyarakat di lereng Gunung Lawu ikut “bermain” anthurium. Apalagi iklim di daerah pegunungan sangat cocok untuk budidaya tanaman hias.
Tanaman hias dari daerah-daerah yang masuk Wilayah Kabupaten Karanganyar ini dikenal memiliki postur bagus, berdaun tebal, kokoh, dan unik. Tak heran jika banyak penggemar menjadikan kawasan lereng Lawu ini sebagai tujuan untuk berburu anthurium.
Ada yang berpendapat, booming anthurium terjadi karena banyak spekulan bermain. Secara riil, permintaan akan anthurium, terutama jenmani, masih mendominasi spekulan. Adapun konsumen lainnya atau hobiis, paling banter hanya 10 persen.
“Bila dicermati, perdagangan anthurium jenmani atau jenis lainnya hanya terjadi antar bakul ke bakul. Inilah yang menyebabkan naiknya harga” ujar seorang pembudidaya asal Karangpandan.
Dengan kondisi tersebut, banyak yang memprediksi booming tanaman tak bakal lama. Paling banter hingga tiga tahun ke depan. Tetapi ada pula yang teguh mengatakan, prospek tanaman hias tetap bagus, asalkan tak ada kultur jaringan yang mampu menghasilkan anakan anthurium dengan jumlah missal.
“Saya optimis booming anthurium cukup lama. Nanti bahkan akan ada booming kedua, karena pangsa pasarnya bukan hanya nasional tapi juga internasional” kata Agung, pemilik Green House Dago Flora di Karanganya Kota.
Apapun penyebabnya, fenomena ini membawa banyak perubahan positif bagi masyarakat, terutama petani tanaman hias yang banyak terdapat di Kabupaten Karanganyar.
Booming tanaman hias tak disia-siakan para pemain anthurium. Ada yang coba meraup untung dengan menjadi pemain. Bisnis tersebut diandalkan sebagai penghasilan utama. Ada pula yang hanya sampingan. Nyaris tak berbeda, karena bisnis ini tetap menguntungkan, sementara bisnis di sector lain tengah mengalami kelesuan.
Tiga Jenis Pemain
Berdasarkan aktivitas, ada tiga jenis pemain anthurium. Pertama breeder atau pembibit. Kedua grower atau pengembang, dan ketiga retailer atau pengecer.
Breeder adalah orang yang melakukan pembiakan tanaman. Mereka membpunya indukan, lalu menjual anakandari tanaman induk itu. Grower adalah orang yang tidak memiliki indukan, tetapi membeli anakan dari breeder dan membesarkannya.
Biasanya grower menjual tanamannya menunggu tren tertentu yang sedang naik daun, sehingga keuntungan menjadi berlipat-lipat. Sementara retailer adalah orang yang bisasa membeli dari breeder atau grower, lalu dijual secara eceran kepada konsumen.
Ketiga jenis pemain anthurium ini ada di Karanganyar. Jumlah terbanyak adalah petani. Sebab grower dan retailer sangat bergantung pada pasokan breeder dan suasana pasar.
Seringkali harga tanaman naik berlipat, karena tingginya permintaan. Sementara mereka telah menjual lebih rendah dari harga sebelum kenaikan, sehingga tidak mampu membeli barang baru.
“Bisa juga kami membeli dari breeder dengan harga cukup mahal, karena sedang ngetren. Tapi ketika dijual lagi, lakunya agak rendahkarena tidak ngetren lagi. Makanya, meski keuntungan banyak, grower dan retailer sangat tergantung pada pasar.
Menjadi OKB
Dengan alasan keuntungan lebih maksimal, banyak orang yang memutuskan jadi petani. Petani bisa memanen tanaman induk yang sudah mengeluarkan tongkol dan dibiakkan.
Biji dari tongkol bisa disemai hingga menjadi bibit atau biasa disebut anakan. Dari sebatang tongkol bisa dihasilkan puluhan bahkan ratusan bibit.
Ah, hitung sendiri berapa laba yang diraup, kalau satu anakan jenmani berdaun dua dijual seharga Rp. 130.000,- hingga Rp. 150.000,- per batang. Dengan beralihnya pola tersebut, mereka bisa disebut sebagai petani, dan bukan sekedar hunter (pemburu) anthurium. Sebutan pemburu membuat mereka tak nyaman, sehingga mendeklarasikan Komunitas Petani Anthurium Karanganyar (Kompak)
Jangan menyepelekan petani yang satu ini. Sebab dari pekerjaan itu, banyak diantara mereka yang jadi jutawan, bahkan miliarder baru di Karanganyar. Mereka jadi OKB (orang kaya baru) karena anthurium.
Salah satunya adalah Bayan Tarso, warga Dusun Karang Kulon, Desa Karang, Kecamatan Karangpandan. Perangkat desa ini punya empat green house anthurium.
Omzet penjualannya mencapai ratusan juta per hari, dengan total asset tak kurang dari 12 miliar. Itu belum termasuk belasan bidang tanah dan mobil, hasil barter orang kaya dengan beberapa tanaman miliknya.
Padahal, kala memulai bisinis ini tahun 2002, ia hanya memiliki modal Rp. 60 juta. Hanya dalam beberapa tahun, modalnya kembali berlipat-lipat. Dia juga memiliki beberapa anthurium jenmani jenis giant, yang ditawarkannya seharga Rp. 250 juta.
Hal yang sama dialami Suyarto, warga Desa Balong, Kecamatan Jenawi. Sopir ambulans dan PNS Golongan II ini bisa menikmati kemewahan karena anthurium jenmanii. Sebuah mobil mewah terparkir di garasinya yang cukup mewah.
Sumber : Suara Merdeka, 28 Agustus 2007 tentang ANTHURIUM

0 komentar:

About Me