BELUT
Belut bisa diusahakan di berbagai perairan seperti sungai, rawa dan kolam. Ia juga dapat dipelihara di genangan air sawah,bahkan dalam air comberan sekalipun!. Belut merupakan salah satu jenis ikan darat dari keluaraga Sybranchidae, yakni ikan yang tidak memiliki sirip atau anggota tubuh lain untuk bergerak.
Jika ingin memelihara belut sebagai usaha sambilan, anda bisa melakukannya di pekarangan rumah. Bahkan jika pekarangan yang dimiliki amat terbatas (sempit), anda bisa memeliharanya di comberan, dengan kadar oksigen dalam air yang sangat minim. Mengapa bisa demikian? Karena belut memiliki alat pernafasan tambahan, sehingga bisa menghisap zat asam (oksigen) langsung dari udara.
Comberan merupakan tempat air buangan (limbah) dari dapur serta kamar mandi yang menggenang. Genangan comberan itu umumnya tidak luas, terletak di belakang rumah, dan biasanya merupakan genangan air kotor yang kental dan berlumpur. Air comberan sudah barang tentu bukanlah tempat ideal bagi kesehatan dan lingkungan sekitarnya. Dipandang pun tidak menarik selera, karena ujud airnya yang kotor dan seringkali mengeluarkan bau tak sedap. Tak sedikit pula comberan menjadi sarang penyakit, terutama jentik-jentik nyamuk. Nah, daripada air comberan menjadi tempat jorok dan sarang penyakit, mengapa tidak dimanfaatkan sebagai media pemeliharaan belut yang cukup produktif?
Comberan yang diusahakan sebagai tempat pemeliharaan belut biasanya lebih terpelihara. Air yang dibuang pun tidak akan melimpah ke mana-mana. Jentik-jentik yang biasa timbul di tempat air yang tergenang juga akan habis dimakan belut. Jadi belut dan comberan bisa dijadikan paduan usaha yang sangat menguntungkan bagi keluarga dan lingkungan.
Jika ingin memelihara belut sebagai usaha sambilan, anda bisa melakukannya di pekarangan rumah. Bahkan jika pekarangan yang dimiliki amat terbatas (sempit), anda bisa memeliharanya di comberan, dengan kadar oksigen dalam air yang sangat minim. Mengapa bisa demikian? Karena belut memiliki alat pernafasan tambahan, sehingga bisa menghisap zat asam (oksigen) langsung dari udara.
Comberan merupakan tempat air buangan (limbah) dari dapur serta kamar mandi yang menggenang. Genangan comberan itu umumnya tidak luas, terletak di belakang rumah, dan biasanya merupakan genangan air kotor yang kental dan berlumpur. Air comberan sudah barang tentu bukanlah tempat ideal bagi kesehatan dan lingkungan sekitarnya. Dipandang pun tidak menarik selera, karena ujud airnya yang kotor dan seringkali mengeluarkan bau tak sedap. Tak sedikit pula comberan menjadi sarang penyakit, terutama jentik-jentik nyamuk. Nah, daripada air comberan menjadi tempat jorok dan sarang penyakit, mengapa tidak dimanfaatkan sebagai media pemeliharaan belut yang cukup produktif?
Comberan yang diusahakan sebagai tempat pemeliharaan belut biasanya lebih terpelihara. Air yang dibuang pun tidak akan melimpah ke mana-mana. Jentik-jentik yang biasa timbul di tempat air yang tergenang juga akan habis dimakan belut. Jadi belut dan comberan bisa dijadikan paduan usaha yang sangat menguntungkan bagi keluarga dan lingkungan.
Menjadi Bak
Sebelum comberan digunakan sebagai tempat pemeliharaan, terlebih dahulu harus dirombak menjadi bak. Bak inilah yang akan menampung air dari dapur dan kamar mandi. Bak dibuar dngan ukuran 1x1x1,5 m³. seluruh dindingnya terbuat dari tembok (batu bata), kecuali bagian dasar yang dibiarkan begitu sajauntuk peresapan air.
Sebelum diisi air, dasar bak perlu dicangkul-cangkul dulu agar gembur. Selanjutnya diberi tumpukan bahan-bahan organic seperti dedak kasar, sekam padi, pupuk kandang yang telah mdang dan ikatan-ikatan jerami kering. Kemudian bak penampungan diisi air, tapi jangan sampai penuh. Cukup setinggi 50-60 cm saja, agar belut tidak mudah keluar dari bak. Untuk mengalirkan air yang berlebihan, pada salah satu pinggiran dibuat lubang pengeluaran.
Penanaman Benih
Sebelum belut-belut dimasukkan, sebaiknya bak telah diisi air selama 15 hari. Ini untuk mencegah terjadinya kematian belut karena pengaruh bahan-bahan tembok seperti kapur dan semen.
Benih belut yang akan dipelihara hendaknya dipilih yang sehat, baik, tidak luka, atau rusak.
Bak comberan berukuran 1x1x1,5 m³ tadi dapat diisi 150 ekor benih dengan panjang 5-8 cm.
Apabila mau diisi belut berukuran tanggung, dengan panjang 15cm, sebaiknya jumlahnya dikurangi hingga separonya. Untuk ukuran benih tanggung ini, masa panen bisa dipersingkat menjadi sekitar dua bulan saja.
Untuk menjaga kemungkinan air meluap dan belut bisa meloncat keluar dari bak comberan, sebaiknya bak ditutup dengan bahan-bahan bamboo. Selain itu, lubang saluran air perlu diberi kawat saringan (filter).
Sebelum diisi air, dasar bak perlu dicangkul-cangkul dulu agar gembur. Selanjutnya diberi tumpukan bahan-bahan organic seperti dedak kasar, sekam padi, pupuk kandang yang telah mdang dan ikatan-ikatan jerami kering. Kemudian bak penampungan diisi air, tapi jangan sampai penuh. Cukup setinggi 50-60 cm saja, agar belut tidak mudah keluar dari bak. Untuk mengalirkan air yang berlebihan, pada salah satu pinggiran dibuat lubang pengeluaran.
Penanaman Benih
Sebelum belut-belut dimasukkan, sebaiknya bak telah diisi air selama 15 hari. Ini untuk mencegah terjadinya kematian belut karena pengaruh bahan-bahan tembok seperti kapur dan semen.
Benih belut yang akan dipelihara hendaknya dipilih yang sehat, baik, tidak luka, atau rusak.
Bak comberan berukuran 1x1x1,5 m³ tadi dapat diisi 150 ekor benih dengan panjang 5-8 cm.
Apabila mau diisi belut berukuran tanggung, dengan panjang 15cm, sebaiknya jumlahnya dikurangi hingga separonya. Untuk ukuran benih tanggung ini, masa panen bisa dipersingkat menjadi sekitar dua bulan saja.
Untuk menjaga kemungkinan air meluap dan belut bisa meloncat keluar dari bak comberan, sebaiknya bak ditutup dengan bahan-bahan bamboo. Selain itu, lubang saluran air perlu diberi kawat saringan (filter).
Makanan
Agar tumbuh dengan baik dan sehat, belut memerlukan makanan yang cukup. Makanan belut yang dipelihara dalam bak comberan terdiri atas jasad renik yang tumbuh dari pupuk. Bisa juga berupa sisa-sisa makanan dari dapur. Lebih baik lagi jika belut diberi makanan tambahan berupa ulat besar (belatung). Ulat bisa diperoleh dengan cara membusukkan ampas kelapa, dedak halus, dan dua sendok makan pupuk urea.
Biarkan campuran ini di tempat lembab selama satu minggu dalam wadah keranjang. Campuran ini nantinya akan akan menghasilkan larva/ulat. Pemberian ulat bisa dilakukan 10 hari sekali.
Pemanenan
Dua bulan setelah dipelihara, benih belut yang semula berukuran kecil (5-8 cm) akan menjadi 15cm. belut tanggung seperti ini harus dikurangi jumlahnya agar kepadatan bak tidak over.
Pengurangan dapat mencapai 60-70 persen dari populasi belut semula. Anda tidak harus membuang belut-belut yang diafkir, tetapi cukup menyediakan bak lain disebelahnya. Jika tidak memungkinkan membuat bak baru, belut yang diafkir ini bisa dijual sebagai benih tanggung. Bisa juga dikonsumsi sendiri sebagai belut goring yang kering, renyah dan gurih.
Sedangkan belut yang tersisa terus dipelihara. Tetapi tumpukan bahan-bahan organic perlu diperbaharui dan diperbaiki dulu.
Dua bulan kemudian, belut sudah berukuran sekitar 25-30cm dan bisa dipanen. Anda bisa memasarkannya dalam keadaan hidup, atau melalui pengolahan menjadi dendeng atau belut goring. Nah selamat mencoba.
Biarkan campuran ini di tempat lembab selama satu minggu dalam wadah keranjang. Campuran ini nantinya akan akan menghasilkan larva/ulat. Pemberian ulat bisa dilakukan 10 hari sekali.
Pemanenan
Dua bulan setelah dipelihara, benih belut yang semula berukuran kecil (5-8 cm) akan menjadi 15cm. belut tanggung seperti ini harus dikurangi jumlahnya agar kepadatan bak tidak over.
Pengurangan dapat mencapai 60-70 persen dari populasi belut semula. Anda tidak harus membuang belut-belut yang diafkir, tetapi cukup menyediakan bak lain disebelahnya. Jika tidak memungkinkan membuat bak baru, belut yang diafkir ini bisa dijual sebagai benih tanggung. Bisa juga dikonsumsi sendiri sebagai belut goring yang kering, renyah dan gurih.
Sedangkan belut yang tersisa terus dipelihara. Tetapi tumpukan bahan-bahan organic perlu diperbaharui dan diperbaiki dulu.
Dua bulan kemudian, belut sudah berukuran sekitar 25-30cm dan bisa dipanen. Anda bisa memasarkannya dalam keadaan hidup, atau melalui pengolahan menjadi dendeng atau belut goring. Nah selamat mencoba.
Sumber : Suara Merdeka, Artikel tentan memelihara BELUT
0 komentar:
Post a Comment