ANTHURIUM
Seakan punya unsur magis, semua mata terpesona dan berlomba ingin memilikinya. Itulah tanaman hias anthurium. Ada yang mengatakan, mahalnya harga tanaman ini dpicu oleh terdongkraknya gengsi pemiliknya. Hal itu tak lepas dari sejarah anthurium, yang dikenal sebagai tanaman raja dan bangsawan. Tanaman ini masuk Indonesia tahun 1800-an, dan digemari kaum bangsawan. Sesuai dengan sosok penampilannya, anthurium juga dinamai sang raja daun. Ya, anthurium memiliki daun-daun yang kokoh dan kompak, yang melambangkan kekuatan dan pengayoman. Tak heran kalau dimasa lalu tanaman ini dijadikanhiasan taman kerajaan di Tanah Jawa.
Anthurium juga dianggap membawa aura tersendiri. Tanaman berdaun kuat ini berperan sebagai eye catching dalam sebuah ruangan. Sebagian orang menganggap daunnya yang gagah dan kokoh merupakan symbol kewibawaan.
Pamor Black
Dalam perkembangannya, muncul berbagai strain anthurium, hasil persilangan di antara spesies dan/atau strain yang berbeda. Bahkan setiap strain kini memiliki beberapa jenis. Saat ini anthurium jenmanii yang digandrungi. Harga komoditas itu melambung tinggi, sementara stocknya cukup jarang. Diperkirakan, banyak yang menyimpan jenis ini untuk persediaan booming fase kedua.
Tapi banyak yang memprediksi tak lama lagi tren akan bergeser. Ketua Kelompok Petani Anthurium Karanganyar (Kompak), Darmono, menduga bahwa jenis black akan mengalami booming akhir tahun ini. Dia mencontohkan anthurium burgundy dan black silfit yang ramai diburu kolektor maupun pecinta tanaman hias. Selain kedua jenis itu, hockery hitam dan garuda hitam juga ikut terdongkrak harganya. ”Pokoknya anthurium black menjadi target perburuan nanti” ucapnya.
Prediksi itu mungkin ada benarnya, karena harga anakan black silfit dan burgundy di pasaran sudah mahal. Untuk yang berdaun dua mencapai Rp. 200.000 – Rp. 250.000. yang berukuran sedang, harga sudah diatas jenmanii kelas menengah.
Sumber : Suara Merdeka, 28 Agustus 2007 tentang ANTHURIUM
0 komentar:
Post a Comment